Suatu Siang di Kios Laundry #4 – Klakson: Gengsi atau Males?

Fiuhh…akhirnya balik lagi ke kios laundry….lha emangnya selama ini ga ke sana? hehehe iya..iya namanya tukang cuci, jarang-jarang nongkrong di konter kebanyakan main air di belakang.

Yap seperti sebelumnya, kalo lagi nongkrong di kios laundry ada aja yang mau diceritain. Mau tau? ih kepo banget…xixixi… Jadi gini kebetulan kios laundry yang ini ada di dalam perumahan. Ya pastilah sebelah-sebelahnya rumah orang (ya iyalah masa rumah hantu!) Nah pasti lo juga ada yang tinggal di perumahan kan? Pernah gak sih ngamatin dan perhatiin kalo tetangga-tetangga lo tuh suka ada yang bunyiin klakson mobil berulang-ulang. Tujuannya cuma satu: Minta dibukain pager sama orang yang ada di rumah biasanya pembantunya! Atau malah lo sendiri yang suka kayak gitu? Hihihi

Salah gak sih? Ya ngga lah mobil-mobil dia, rumah-rumah dia, pembantu-pembantu dia. Trus kenapa gue yang ribet ye? Yah namanya tukang cuci, kerjaannya selain nyuci baju kadang kalo otaknya kotor ya dicuci juga. Pernah ga sih dia mikir kalo tuh yang dia pencet itu klakson mobil. Suaranya gak cuma didenger sama orang yang ada di dalem rumahnya aja tapi satu gang atau satu blok rumah tuh bisa denger, kecuali yang kesulitan pendengaran. Mending sekali tapi berkali-kali. Nih orang mau pamerin bunyi klakson apa yak? Coba bayangin kalo lagi ada yang istirahat atau tidur bahkan sedang sakit kan berisik banget. Ganggu!

Gue suka sebel sama orang kayak gitu. Ga bisa apa turun dari mobil, buka pintu gerbang sendiri. Alesannya tar kalo mobilnya digondol maling gimana? Aduh…kan uda ada pembantu mas, itu tugasnya pembantu dong bukain pintu! Tuh pembantu budek mas,,,makannya saya bunyiin berkali-kali biar dia keluar! Okeee…it’s your arguments (ih sadis gak sih bahasa inggris gue)

Tapi tetep, bagi gue lo cuma kebanyakan alesan, gengsi dan MALES! Kalo lo takut mobil lo ilang pas lo buka gerbang, ya lo rantein dulu aje! pake rante dompet tuh yang ngetren pas taun 2000-an awal. Kalo tugas pembantu lo emang bukain pintu ya kasi kamar di paling depan jadi dia bisa denger. Pake deh klakson yang cuma lo doang yang punya tuh jenis bunyi klaksonnya misalnya pas ditekan klakson, bunyinya : “Mbak Siti yang kerja di rumahnya Pak Boneng, tolong bukain pintu gerbang dong!” ya kalo bunyinya  standart mah tetangga lo juga punya kali bunyi yang sama, ga usah sombong pamer-pamerin bunyi klakson yang sama.

Solusi yang lain dan masuk di akal orang waras nih. Lo beli deh bel yang wireles. Belnya lo pasang di dalem rumah, tombolnya lo taro di dalem mobil. Jangan kebalik!

Sekian. Gue Leyo si Tukang Cuci. Terima Kasih.

Rabu Merbabu Debu dan Abu

Tepatnya 2 minggu lalu yaitu pada Selasa 12 Mei 2015, saya saat ini sedang berkemas memasukkan barang-barang yang akan dibawa untuk pendakian Merbabu pada esok harinya yaitu Rabu 13 Mei 2015.

Kebetulan saya seorang bertipe SKS (Sistem Kebut Semalam) jadi semua persiapan baru saya packing tepat H-1 keberangkatan. Tas gunung saya yang termasuk cilik ternyata tidak muat untuk membawa semua peralatan dan perlengkapan yang saya mau bawa. Terpaksa saya membawa satu lagi backpack sehingga saya membawa 2 tas tandem depan dan belakang. Yes banget.

pemandangan langit dari pos 2 jalur Wekas, Merbabu
pemandangan langit dari pos 2 jalur Wekas, Merbabu

Saya termasuk orang yang sangat jarang bepergian untuk liburan, jadi sekalinya ada kesempatan untuk berlibur seperti ini, saya manfaatkan sebaik-baiknya dan harus seru! Mungkin banyak yang nanya kok liburan malah naik gunung bro? Bukannya liburan, malah nambah capek aja. Saya cuma menjawab, mumpung masih dikasih kesempatan hidup, hiduplah secapek mungkin, meskipun liburan, carilah liburan yang capek bro. Kalo kita mati, kita ga akan tau lagi rasanya capek tuh gimana.

Saya berangkat naik bus bersama 2 orang teman semasa kuliah di Teknik Atmajaya Jakarta yaitu Rena dan Satria beserta satu temannya Rena yaitu Larissa. Saya serasa reuni kecil setelah 10 tahun sejak bertemu Rena dan Satria di kampus. Kami naik Bis Handoyo saat berangkat dengan tiket seharga 160ribu per orang.

Hari kamis kami tiba di Magelang, lalu naik mobil carteran menuju basecamp Wekas seharga 200rb per mobil. Kebetulan ada rombongan lain jadi kami bisa patungan untuk sewa mobil tersebut. Lumayan hemat waktu dan tenaga serta ongkos ditanggung bersama. Hehehe.

Kami berempat memulai pendakian sekitar pukul 12 siang setelah menyantap makan siang yang didapat dengan harga cukup terjangkau di rumah penduduk yang berada di basecamp Wekas. Hati saya mulai bergejolak tak kuasa menahan rasa gembira saat telah sadar akan mulai mendaki Merbabu! Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di sana. Oh iya biasanya  di setiap basecamp, yang menjadi tempat basecamp untuk para pendaki adalah rumah penduduk sekitar. Jadi dengan adanya tempat pendakian ini, penduduk sekaligus mendapat rejeki dari para pendaki entah mereka berjualan makanan, atau perlengkapan mendaki. Biasanya mereka orang yang sangat ramah terhadap tamu yang datang.

pemandangan sunset dari pos 2 jalur Wekas
pemandangan sunset dari pos 2 jalur Wekas

6 jam akhirnya kami sampai di pos 2 biasa dipakai untuk berkemah atau bahasa kerennya camping area. Setiap menemukan jalan rata, saya pribadi selalu begitu amat senangnya paling tidak bisa mengistirahatkan otot-otot kaki sejenak, karena medan di pendakian gunung Merbabu ini cukup berat, sudut kemiringannya rata-rata 45 derajat bahkan lebih. Maka itu, ketika sampai di pos 2 ini terasa sangat puas karena sudah berhasil mencapai satu pijakan untuk merebahkan diri. Setelah membangun tenda bersama, lalu memasak makan malam dengan bahan makanan yang kami bawa, saya memutuskan untuk langsung tidur setelah makan malam. Sementara itu ketiga teman saya sibuk memburu foto-foto bintang yang memang sangat indah pada malam itu. Setelah melihat sejenak, saya tidak lagi berkompromi untuk melihat bintang karena saya sendiri melihat bintang berputar di dalam tenda (baca: tepar)

Keesokan harinya adalah Jumat 15 Mei 2015, kami melanjutkan perjalanan setelah menyantap sarapan yang biasa dibawa para pendaki pada umumnya yaitu  mie dan energen. Hehehe. Seperti sudah menu wajib bagi para pendaki. Sepatu Satria sempat lepas solnya dan akhirnya mengganti dengan sendal gunung. Ada titik yang disebut Batu Gede karena ada beberapa buah batu besar untuk beristirahat. Kami berisitirahat bersama pendaki lainnya, ngobrol ngalor ngidul. Beragam ekspresi tampak di sana. Ada yang santai dan gembira, lusuh, muram, mungkin kelelahan tapi inilah jalan yang harus ditempuh.

Beberapa waktu setelah melewati Batu Gede akhirnya  kami sampai di Pertigaan yaitu salah satu checkpoint di mana di tempat ini merupakan titik untuk ke arah tiang pemancar, puncak dan kembali ke basecamp Wekas.

pertigaan

Sejenak beristirahat di Pertigaan, kami langsung tancap gas menuju puncak yang terlihat menggoda. Jembatan Setan menanti kami di depan. Saya tidak mengerti mengapa disebut Jembatan Setan. Mungkin karena kedua  sisinya yang langsung menyajikan jurang. Tapi bagi saya pribadi pemandangan yang ada di sana membuat saya begitu takjub. GOD is GREAT! Tidak bisa menahan untuk bertepuk tangan atas karya-Nya yang begitu nyata dan tiada tandingnya. Sangat bersyukur masih diberi penglihatan karena lensa mata tidak bisa dikalahkan lensa kamera tercanggih pun.

Puncak bukan segalanya dalam melakukan pendakian, itu merupakan bonus dari perjuangan dalam proses pendakian. Jangan selalu cepat tergiur jika ada kawan yang berfoto di suatu puncak gunung, karena untuk mencapai ke sana tidak melewati medan yang mudah. Begitu pun puncak Merbabu yang telah saya dan ketiga kawan saya capai, kami harus melewati berbagai medan yang berat, bahkan harus menguras fisik saat merayap di tebing yang sangat mengandalkan kekuatan cengkraman tangan. Semua perlu persiapan sebelum memulai pendakian. Mental dan fisik paling penting namun yang utama adalah jangan lupakan Tuhan dalam pendakianmu.

puncak

Sulit bagi saya melukiskan dengan kata-kata bagaimana indahnya karya Tuhan bila melihat dari atas gunung. Di tanah setinggi ribuan meter itu, saya merasa sangat kecil, bahkan ketika saya membesarkan diri dengan kesombongan, hal itu tidak ada apa-apanya di sana, begitu banyak pelajaran yang didapat saat mendaki gunung untuk saya bawa pulang. Bahwasanya di atas puncak Merbabu saya kembali bisa mengingat siapa diri saya yang hanyalah seonggok debu yang akan kembali menjadi abu kelak. Sekali lagi saya menulis kalimat yang saya sukai yaitu di atas langit masih ada langit. Stay humble!

Ingat, jangan lupa jika mendaki gunung setelah melewati puncak, masih ada proses menuruninya. Dalam hal ini, mendaki dan menuruni gunung memiliki level yang sama. Jangan selalu berasumsi bahwa turun lebih mudah ketimbang naik. Setelah beberapa kali saya mendaki gunung, tujuan utama saya bukanlah untuk seberapa cepat saya mencapai puncak gunung tersebut tetapi saya bersama kawan saya datang ke gunung itu dan pulang bersama kembali untuk membawa cerita seperti yang saya tulis ini.

Buat kamu yang belum pernah naik gunung, cobalah untuk melakukannya. Mumpung masih hidup coy.

Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya – Gie

note: foto-fotonya yang ambil itu teman-teman saya, bukan hasil foto saya ya:)

1 Liter Air Mata Saja Tidak Cukup

“Tujuan hidupku untuk apa?”

Begitulah terjemahan yang saya baca sewaktu menonton drama serial Jepang, 1 Liter of Tears (2005). Berkisah tentang seorang perempuan yang mengidap penyakit Spinocerebellar Degeneration dimana penyakit ini menyerang otak kecil sehingga merusak saraf tubuh dan biasanya terjadi pada usia di bawah 20 tahun. Tanpa ada gejala yang berarti, penyakit ini dapat tumbuh dan berkembang pesar hingga si penderita mulai tidak bisa berbicara jelas, berjalan, menulis, membaca, dan segala aktifitas lainnya.

Diambil dari sebuah catatan harian Ikeuchi Aya, di dalam film ini Erika Sawajiri terlihat begitu mendalami perannya sebagai Aya. Dalam serial drama yang terdiri dari 11 episode ini, setiap yang menonton dibuai ke dalam larut perasaan Aya dan keluarga serta teman-temannya.

Saya  sebenarnya sudah tahu sejak beberapa tahun lalu tentang adanya film ini, tapi belum pernah menontonnya. Baru sekitar 3 hari lalu, saya mulai menonton drama ini dan rasa haru selalu meliputi setiap episodenya. Bagaimana ketabahan dan kekuatan Aya dalam menjalani sisa hidupnya di saat mulai mengetahui penyakitnya sampai akhir hidupnya. Ketabahan orang tua yang dipadu dengan konflik-konflik antar keluarga dan masyarakat.

Hidup Aya yang tidak ia sadari telah menyadarkan orang-orang di sekilingnya seperti adik-adiknya yang pernah malu terhadapnya menjadi begitu memujanya, yang malas belajar menjadi rajin. Dikisahkan juga kisah cintanya yang kandas dengan seorang seniornya sejak SMP karena sang senior tahu Aya punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan sehingga ia menjauhinya. Namun ada seorang teman pria yang setia menemaninya hingga akhir hayatnya (Asou).

Kisah ini begitu lengkap dengan emosi-emosi yang ditonjolkan mulai dari perubahan sikap lingkungan, keluarga, dan kerabatnya. Hingga akhirnya catatan harian Aya mulai tersebar dan menumbuhkan rasa “hidup” oleh penderita penyakit yang sama di tempat lainnya.

Banyak pesan moral yang bisa diambil dari film ini. Bagi saya satu liter air mata tidak cukup karena akan terus mengalir berjuta-juta liter air mata untuk setiap yang menonton film ini. Kisah inspiratif dari seorang Ikeuchi Aya, pemudi yang selalu bersemangat mulai dari sehat hingga sakit dan menuju kebahagiaan abadi.

1 Litre of Tears mengajarkan bagaimana mensyukuri hidup ini, ucapkan dengan tulus rasa terima kasih dan maaf, bagaimana bersikap di masyarakat, karena waktu tidak bisa diulang.

Ada satu lagu yang sangat saya suka dalam film ini. Sangatsu Kokonoka (9 Maret)

Saya Mulai Anti Terhadap Kalimat “Yang Waras, Ngalah lha”

Hari Jumat kemarin tanggal 3 April 2015 bertepatan dengan Hari Jumat Agung saya pun mengikuti misa Jumat Agung. Ada saja kejadian lucu sewaktu saya mengendarai kendaraan menuju gereja. Ketika saya akan keluar dari perumahan menuju jalan raya 2 arah sehingga saya harus menunggu sepi dari arah satunya supaya saya bisa menyeberangkan kendaraan saya. Setelah sepi dan saya rasa cukup aman untuk maju, tiba-tiba ada motor dari sebelah kiri saya lewat berjalan melawan arah. Saya bunyikan klakson tetapi dia malah melototi saya dan terus jalan saja. Berikut gambarannya:

jalan

 

Di rumah sepulang misa, saya pun buka Facebook dan ada teman yang share tentang kejadian yang melibatkan pemotor hebat juga. Nih silahkan baca sendiri ya di sini. Entah dimana letak otak para pemotor ini. Saya share aja foto dari yang di share oleh mba Gati Nazeni supaya lebih jelas.

Saya membaca komen-komen lainnya banyak yang mendukung aksi dari mba Gati tersebut. Saya pun juga sangat mendukung aksinya. Keren! Ngapain takut kalo gak salah! Tapi ada beberapa orang yang ikut mendukung tapi kalo saya pikir mendukungnya setengah-setengah. Cari aman lah istilahnya. Ada satu yang memikat penglihatan saya yaitu ada yang berkomentar “Yah, yang waras ngalahlah” ini menurut saya dia mendukung tapi kok kalah. Itulah sebabnya saya sudah malas kalo ada yang bilang seperti itu. Jakarta saat ini sudah dipenuhi orang tidak waras ya salah satu contohnya yang di foto itu. Kalo yang waras ngalah terus, mau jadi apaan ibukota ini? Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar terus ngalah!

Untuk persoalan satu ini, saya sudah tidak terima dengan kata-kata tersebut. Kalo memang waras sudah seharusnya menegur atau menindak yang tidak waras tersebut, bukan mendiamkan atau mengalah. Yah, mungkin polisi-polisi lalu lintas di sini juga masih menerapkan prinsip itu sehingga mereka membiarkan saja segala pelanggaran yang terjadi. Entahlah…yang waras ngalah deh…

Rahasia Sebungkus dan Sepiring Nasi Padang

“Da..nasi padang 2 bungkus pake ayam sayur” seru seseorang yang sepertinya tukang bangunan saat saya sedang asik melahap sepiring nasi Padang di sebuah rumah makan Padang tentunya.

Pernah gak sih kalian merhatiin ada perbedaan yang cukup mencolok pada saat memesan nasi padang yang dibungkus dan dimakan di tempat? Saya pernah baca di suatu artikel tentang hal ini, tetapi saya tidak menemukan lagi artikel tersebut. Jadi tulisan ini saya buat dengan daya kemampuan ingatan saya saja ya.

Jadi jika saya tidak salah ingat dari yang saya baca, ada perbedaan pada saat memesan nasi padang yang dibungkus dan dimakan di tempat. Iyes! Betul! beda kan porsinya!? Coba lihat yang dibungkus pasti lebih banyak atau banyak banget ketimbang yang dimakan di tempat. Nah katanya sih ini sudah terjadi sejak lama. Pada saat jaman penjajahan Belanda, orang pribumi khususnya yang dari daerah Padang banyak yang membuka rumah makan. Dari rumah makan itu, tamu yang berkunjung kebanyakan adalah dari kaum bangsawan atau kalangan atas.

Biasanya kalangan atas tersebut hanya makan sedikit saja porsinya. Lalu dari kalangan marginal mereka biasanya enggan untuk makan di dalam rumah makan itu karena mungkin ada perasaan tidak pantas kaum  mereka makan di restoran, jadi mereka selalu minta dibungkus saja. Karena pemilik rumah makan adalah kaum pribumi juga, mungkin mereka juga ikut merasakan penderitaan para pekerja tadi. Jadi setiap ada yang memesan dibungkus selalu mereka beri porsi yang lebih banyak karena mereka tahu bahwa dari makanan itu sumber energi bagi kaum pekerja.

 

Hal itu pun berlanjut hingga sekarang, walaupun yang beli dibungkus sudah tidak lagi dari kaum marjinal atau pekerja kasar. Mungkin bisa jadi ini yang dinamakan subsidi silang ya. Hehe jadi dengan membayar jumlah yang sama, para kaum kelas atas hanya makan sedikit dan lebihnya diberikan ke kaum kalangan bawah.

Sekali lagi ini hanya dari ingatan saya yang pernah membaca tulisan mengenai hal ini. Mungkin saja tulisan yang pernah saya baca itu juga hanya pendapat si penulis.  Atau dari kalian ada pendapat lain. Silahkan:)

membaca blog ini akan mengurangi waktu berharga Anda. Lebih baik gunakan waktu Anda untuk berkumpul bersama keluarga, sahabat, dan rekan bisnis.

%d bloggers like this: