Rabu Merbabu Debu dan Abu

Tepatnya 2 minggu lalu yaitu pada Selasa 12 Mei 2015, saya saat ini sedang berkemas memasukkan barang-barang yang akan dibawa untuk pendakian Merbabu pada esok harinya yaitu Rabu 13 Mei 2015.

Kebetulan saya seorang bertipe SKS (Sistem Kebut Semalam) jadi semua persiapan baru saya packing tepat H-1 keberangkatan. Tas gunung saya yang termasuk cilik ternyata tidak muat untuk membawa semua peralatan dan perlengkapan yang saya mau bawa. Terpaksa saya membawa satu lagi backpack sehingga saya membawa 2 tas tandem depan dan belakang. Yes banget.

pemandangan langit dari pos 2 jalur Wekas, Merbabu
pemandangan langit dari pos 2 jalur Wekas, Merbabu

Saya termasuk orang yang sangat jarang bepergian untuk liburan, jadi sekalinya ada kesempatan untuk berlibur seperti ini, saya manfaatkan sebaik-baiknya dan harus seru! Mungkin banyak yang nanya kok liburan malah naik gunung bro? Bukannya liburan, malah nambah capek aja. Saya cuma menjawab, mumpung masih dikasih kesempatan hidup, hiduplah secapek mungkin, meskipun liburan, carilah liburan yang capek bro. Kalo kita mati, kita ga akan tau lagi rasanya capek tuh gimana.

Saya berangkat naik bus bersama 2 orang teman semasa kuliah di Teknik Atmajaya Jakarta yaitu Rena dan Satria beserta satu temannya Rena yaitu Larissa. Saya serasa reuni kecil setelah 10 tahun sejak bertemu Rena dan Satria di kampus. Kami naik Bis Handoyo saat berangkat dengan tiket seharga 160ribu per orang.

Hari kamis kami tiba di Magelang, lalu naik mobil carteran menuju basecamp Wekas seharga 200rb per mobil. Kebetulan ada rombongan lain jadi kami bisa patungan untuk sewa mobil tersebut. Lumayan hemat waktu dan tenaga serta ongkos ditanggung bersama. Hehehe.

Kami berempat memulai pendakian sekitar pukul 12 siang setelah menyantap makan siang yang didapat dengan harga cukup terjangkau di rumah penduduk yang berada di basecamp Wekas. Hati saya mulai bergejolak tak kuasa menahan rasa gembira saat telah sadar akan mulai mendaki Merbabu! Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di sana. Oh iya biasanya  di setiap basecamp, yang menjadi tempat basecamp untuk para pendaki adalah rumah penduduk sekitar. Jadi dengan adanya tempat pendakian ini, penduduk sekaligus mendapat rejeki dari para pendaki entah mereka berjualan makanan, atau perlengkapan mendaki. Biasanya mereka orang yang sangat ramah terhadap tamu yang datang.

pemandangan sunset dari pos 2 jalur Wekas
pemandangan sunset dari pos 2 jalur Wekas

6 jam akhirnya kami sampai di pos 2 biasa dipakai untuk berkemah atau bahasa kerennya camping area. Setiap menemukan jalan rata, saya pribadi selalu begitu amat senangnya paling tidak bisa mengistirahatkan otot-otot kaki sejenak, karena medan di pendakian gunung Merbabu ini cukup berat, sudut kemiringannya rata-rata 45 derajat bahkan lebih. Maka itu, ketika sampai di pos 2 ini terasa sangat puas karena sudah berhasil mencapai satu pijakan untuk merebahkan diri. Setelah membangun tenda bersama, lalu memasak makan malam dengan bahan makanan yang kami bawa, saya memutuskan untuk langsung tidur setelah makan malam. Sementara itu ketiga teman saya sibuk memburu foto-foto bintang yang memang sangat indah pada malam itu. Setelah melihat sejenak, saya tidak lagi berkompromi untuk melihat bintang karena saya sendiri melihat bintang berputar di dalam tenda (baca: tepar)

Keesokan harinya adalah Jumat 15 Mei 2015, kami melanjutkan perjalanan setelah menyantap sarapan yang biasa dibawa para pendaki pada umumnya yaitu  mie dan energen. Hehehe. Seperti sudah menu wajib bagi para pendaki. Sepatu Satria sempat lepas solnya dan akhirnya mengganti dengan sendal gunung. Ada titik yang disebut Batu Gede karena ada beberapa buah batu besar untuk beristirahat. Kami berisitirahat bersama pendaki lainnya, ngobrol ngalor ngidul. Beragam ekspresi tampak di sana. Ada yang santai dan gembira, lusuh, muram, mungkin kelelahan tapi inilah jalan yang harus ditempuh.

Beberapa waktu setelah melewati Batu Gede akhirnya  kami sampai di Pertigaan yaitu salah satu checkpoint di mana di tempat ini merupakan titik untuk ke arah tiang pemancar, puncak dan kembali ke basecamp Wekas.

pertigaan

Sejenak beristirahat di Pertigaan, kami langsung tancap gas menuju puncak yang terlihat menggoda. Jembatan Setan menanti kami di depan. Saya tidak mengerti mengapa disebut Jembatan Setan. Mungkin karena kedua  sisinya yang langsung menyajikan jurang. Tapi bagi saya pribadi pemandangan yang ada di sana membuat saya begitu takjub. GOD is GREAT! Tidak bisa menahan untuk bertepuk tangan atas karya-Nya yang begitu nyata dan tiada tandingnya. Sangat bersyukur masih diberi penglihatan karena lensa mata tidak bisa dikalahkan lensa kamera tercanggih pun.

Puncak bukan segalanya dalam melakukan pendakian, itu merupakan bonus dari perjuangan dalam proses pendakian. Jangan selalu cepat tergiur jika ada kawan yang berfoto di suatu puncak gunung, karena untuk mencapai ke sana tidak melewati medan yang mudah. Begitu pun puncak Merbabu yang telah saya dan ketiga kawan saya capai, kami harus melewati berbagai medan yang berat, bahkan harus menguras fisik saat merayap di tebing yang sangat mengandalkan kekuatan cengkraman tangan. Semua perlu persiapan sebelum memulai pendakian. Mental dan fisik paling penting namun yang utama adalah jangan lupakan Tuhan dalam pendakianmu.

puncak

Sulit bagi saya melukiskan dengan kata-kata bagaimana indahnya karya Tuhan bila melihat dari atas gunung. Di tanah setinggi ribuan meter itu, saya merasa sangat kecil, bahkan ketika saya membesarkan diri dengan kesombongan, hal itu tidak ada apa-apanya di sana, begitu banyak pelajaran yang didapat saat mendaki gunung untuk saya bawa pulang. Bahwasanya di atas puncak Merbabu saya kembali bisa mengingat siapa diri saya yang hanyalah seonggok debu yang akan kembali menjadi abu kelak. Sekali lagi saya menulis kalimat yang saya sukai yaitu di atas langit masih ada langit. Stay humble!

Ingat, jangan lupa jika mendaki gunung setelah melewati puncak, masih ada proses menuruninya. Dalam hal ini, mendaki dan menuruni gunung memiliki level yang sama. Jangan selalu berasumsi bahwa turun lebih mudah ketimbang naik. Setelah beberapa kali saya mendaki gunung, tujuan utama saya bukanlah untuk seberapa cepat saya mencapai puncak gunung tersebut tetapi saya bersama kawan saya datang ke gunung itu dan pulang bersama kembali untuk membawa cerita seperti yang saya tulis ini.

Buat kamu yang belum pernah naik gunung, cobalah untuk melakukannya. Mumpung masih hidup coy.

Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya – Gie

note: foto-fotonya yang ambil itu teman-teman saya, bukan hasil foto saya ya:)

Leave a Reply