Saya Mulai Anti Terhadap Kalimat “Yang Waras, Ngalah lha”

Hari Jumat kemarin tanggal 3 April 2015 bertepatan dengan Hari Jumat Agung saya pun mengikuti misa Jumat Agung. Ada saja kejadian lucu sewaktu saya mengendarai kendaraan menuju gereja. Ketika saya akan keluar dari perumahan menuju jalan raya 2 arah sehingga saya harus menunggu sepi dari arah satunya supaya saya bisa menyeberangkan kendaraan saya. Setelah sepi dan saya rasa cukup aman untuk maju, tiba-tiba ada motor dari sebelah kiri saya lewat berjalan melawan arah. Saya bunyikan klakson tetapi dia malah melototi saya dan terus jalan saja. Berikut gambarannya:

jalan

 

Di rumah sepulang misa, saya pun buka Facebook dan ada teman yang share tentang kejadian yang melibatkan pemotor hebat juga. Nih silahkan baca sendiri ya di sini. Entah dimana letak otak para pemotor ini. Saya share aja foto dari yang di share oleh mba Gati Nazeni supaya lebih jelas.

Saya membaca komen-komen lainnya banyak yang mendukung aksi dari mba Gati tersebut. Saya pun juga sangat mendukung aksinya. Keren! Ngapain takut kalo gak salah! Tapi ada beberapa orang yang ikut mendukung tapi kalo saya pikir mendukungnya setengah-setengah. Cari aman lah istilahnya. Ada satu yang memikat penglihatan saya yaitu ada yang berkomentar “Yah, yang waras ngalahlah” ini menurut saya dia mendukung tapi kok kalah. Itulah sebabnya saya sudah malas kalo ada yang bilang seperti itu. Jakarta saat ini sudah dipenuhi orang tidak waras ya salah satu contohnya yang di foto itu. Kalo yang waras ngalah terus, mau jadi apaan ibukota ini? Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar terus ngalah!

Untuk persoalan satu ini, saya sudah tidak terima dengan kata-kata tersebut. Kalo memang waras sudah seharusnya menegur atau menindak yang tidak waras tersebut, bukan mendiamkan atau mengalah. Yah, mungkin polisi-polisi lalu lintas di sini juga masih menerapkan prinsip itu sehingga mereka membiarkan saja segala pelanggaran yang terjadi. Entahlah…yang waras ngalah deh…

Leave a Reply