1 Liter Air Mata Saja Tidak Cukup

“Tujuan hidupku untuk apa?”

Begitulah terjemahan yang saya baca sewaktu menonton drama serial Jepang, 1 Liter of Tears (2005). Berkisah tentang seorang perempuan yang mengidap penyakit Spinocerebellar Degeneration dimana penyakit ini menyerang otak kecil sehingga merusak saraf tubuh dan biasanya terjadi pada usia di bawah 20 tahun. Tanpa ada gejala yang berarti, penyakit ini dapat tumbuh dan berkembang pesar hingga si penderita mulai tidak bisa berbicara jelas, berjalan, menulis, membaca, dan segala aktifitas lainnya.

Diambil dari sebuah catatan harian Ikeuchi Aya, di dalam film ini Erika Sawajiri terlihat begitu mendalami perannya sebagai Aya. Dalam serial drama yang terdiri dari 11 episode ini, setiap yang menonton dibuai ke dalam larut perasaan Aya dan keluarga serta teman-temannya.

Saya  sebenarnya sudah tahu sejak beberapa tahun lalu tentang adanya film ini, tapi belum pernah menontonnya. Baru sekitar 3 hari lalu, saya mulai menonton drama ini dan rasa haru selalu meliputi setiap episodenya. Bagaimana ketabahan dan kekuatan Aya dalam menjalani sisa hidupnya di saat mulai mengetahui penyakitnya sampai akhir hidupnya. Ketabahan orang tua yang dipadu dengan konflik-konflik antar keluarga dan masyarakat.

Hidup Aya yang tidak ia sadari telah menyadarkan orang-orang di sekilingnya seperti adik-adiknya yang pernah malu terhadapnya menjadi begitu memujanya, yang malas belajar menjadi rajin. Dikisahkan juga kisah cintanya yang kandas dengan seorang seniornya sejak SMP karena sang senior tahu Aya punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan sehingga ia menjauhinya. Namun ada seorang teman pria yang setia menemaninya hingga akhir hayatnya (Asou).

Kisah ini begitu lengkap dengan emosi-emosi yang ditonjolkan mulai dari perubahan sikap lingkungan, keluarga, dan kerabatnya. Hingga akhirnya catatan harian Aya mulai tersebar dan menumbuhkan rasa “hidup” oleh penderita penyakit yang sama di tempat lainnya.

Banyak pesan moral yang bisa diambil dari film ini. Bagi saya satu liter air mata tidak cukup karena akan terus mengalir berjuta-juta liter air mata untuk setiap yang menonton film ini. Kisah inspiratif dari seorang Ikeuchi Aya, pemudi yang selalu bersemangat mulai dari sehat hingga sakit dan menuju kebahagiaan abadi.

1 Litre of Tears mengajarkan bagaimana mensyukuri hidup ini, ucapkan dengan tulus rasa terima kasih dan maaf, bagaimana bersikap di masyarakat, karena waktu tidak bisa diulang.

Ada satu lagu yang sangat saya suka dalam film ini. Sangatsu Kokonoka (9 Maret)

Saya Mulai Anti Terhadap Kalimat “Yang Waras, Ngalah lha”

Hari Jumat kemarin tanggal 3 April 2015 bertepatan dengan Hari Jumat Agung saya pun mengikuti misa Jumat Agung. Ada saja kejadian lucu sewaktu saya mengendarai kendaraan menuju gereja. Ketika saya akan keluar dari perumahan menuju jalan raya 2 arah sehingga saya harus menunggu sepi dari arah satunya supaya saya bisa menyeberangkan kendaraan saya. Setelah sepi dan saya rasa cukup aman untuk maju, tiba-tiba ada motor dari sebelah kiri saya lewat berjalan melawan arah. Saya bunyikan klakson tetapi dia malah melototi saya dan terus jalan saja. Berikut gambarannya:

jalan

 

Di rumah sepulang misa, saya pun buka Facebook dan ada teman yang share tentang kejadian yang melibatkan pemotor hebat juga. Nih silahkan baca sendiri ya di sini. Entah dimana letak otak para pemotor ini. Saya share aja foto dari yang di share oleh mba Gati Nazeni supaya lebih jelas.

Saya membaca komen-komen lainnya banyak yang mendukung aksi dari mba Gati tersebut. Saya pun juga sangat mendukung aksinya. Keren! Ngapain takut kalo gak salah! Tapi ada beberapa orang yang ikut mendukung tapi kalo saya pikir mendukungnya setengah-setengah. Cari aman lah istilahnya. Ada satu yang memikat penglihatan saya yaitu ada yang berkomentar “Yah, yang waras ngalahlah” ini menurut saya dia mendukung tapi kok kalah. Itulah sebabnya saya sudah malas kalo ada yang bilang seperti itu. Jakarta saat ini sudah dipenuhi orang tidak waras ya salah satu contohnya yang di foto itu. Kalo yang waras ngalah terus, mau jadi apaan ibukota ini? Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar terus ngalah!

Untuk persoalan satu ini, saya sudah tidak terima dengan kata-kata tersebut. Kalo memang waras sudah seharusnya menegur atau menindak yang tidak waras tersebut, bukan mendiamkan atau mengalah. Yah, mungkin polisi-polisi lalu lintas di sini juga masih menerapkan prinsip itu sehingga mereka membiarkan saja segala pelanggaran yang terjadi. Entahlah…yang waras ngalah deh…