Belajar Pasrah Di Atas Awan

Hidup itu ada di antara B dan D. B untuk Birth (Lahir) dan D untuk Death (mati). Ya hidup itu adalah C yaitu Choice (pilihan).

Pernah gue baca kalimat itu di suatu buku tapi lupa judul bukunya. Rasanya gue yang sekarang belum pantas buat nulis-nulis hal yang berat kayak gini. Tapi balik  lagi sekarang, ini pilihan. Gue milih ga nulis atau nulis apa yang pernah gue baca dan pernah gue alamin sendiri dalam hidup keseharian.

Kecelakaan pesawat terbang yang beberapa waktu terakhir ini gue sering liat di berita. Entah itu dibajak atau kehilangan kendali atau kesalahan teknis maupun awaknya, berbagai penyebab bisa saja terjadi di atas udara. Terbaru adalah kecelakan pesawat Air Asia QZ8501 yang syukurnya sekarang sudah ditemukan letak jatuhnya pesawat dan para korbannya. Gue ga bisa bayangin bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalin. Gue sendiri pun percaya sama cerita-cerita orang yang punya firasat kalo sebelum keberangkatannya, sosok korban atau keluarga yang ditinggalin merasa ada yang ganjil entah itu tindakan yang tidak biasa dilakukan atau kata-kata yang sebelumnya tidak pernah diucapkannya atau bahkan mimpi dan sebagainya.

Firasat hanya tinggal firasat yang biasanya baru kita sadarin setelah semua terjadi.

Di luar semua itu, pasrah sebuah kata sederhana yang mengandung makna yang dalam buat gue. Ketika pasrah bukan berarti menunggu apa yang akan terjadi tetapi terjadilah apa yang Dia kehendaki setelah kita berusaha. Tetapi untuk keadaan di dalam pesawat gue lebih mengarahkan pasrah sebagai berserah diri kepadaNya. Untuk yang di pesawat atau keluarganya, pasrah aja. Karena menurut gue dengan pasrah kita udah siap untuk menerima segala kemungkinan yang terjadi.

Mungkin aja Tuhan mau lebih cepat ketemu dengan mereka yang menjadi korban entah karena mereka telah banyak berbuat baik di dunia. Atau juga Tuhan mau mengingatkan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk tetap mengingat Dia karena hidup dan mati ada di tanganNya. Itu menurut gue

Turut berduka cita untuk semua korban dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan hikmah di balik semua ini. Tuhan selalu beserta kita

RencanaNya lebih besar dari ciptaan manusia

Antara Ucapan Selamat Natal dan Keimanan

Haram atau Halal???

Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya selalu menyaksikan perdebatan tentang memberi ucapan selamat Natal dari kaum Muslim kepada kaum Kristiani yang merayakan Natal. Hal memberi ucapan yang menurut saya pribadi adalah hal yang sangat tidak penting untuk diperdebatkan. Lucu.

Sampai ada yang menulis di Kompasiana dengan judul Gue yang Natalan, Situ yang Ribut yang ditujukan untuk Menteri Agama kita yang tersayang. Eh, ngomong-ngomong soal Menteri Agama, saya juga bingung sebenernya pokok kerjaan dari dia apa sih? Kenapa ya Menteri Agama selalu yang beragama Muslim? Kenapa ga pernah Kristen, Katolik, Budha, atau Hindu ya. Ah…sudahlah.

Saya pribadi bukanlah orang yang taat beragama setaat-taatnya. Tapi saya bersyukur hingga sekarang saya memiliki keluarga, saudara dari orangtua saya yang sangat menghargai perbedaan keyakinan. Hampir setiap Natal, keluarga saya mengunjungi nenek dari ibu saya dan dibuatkan macam-macam masakan oleh tante saya. Mereka Muslim, tapi tidak pernah terlewatkan untuk mengucapkan “selamat Natal” dengan pelukan dan cium pipi serta mendoakan saya dan keluarga. Yah, walau ada beberapa yang tidak mengucapkan sama sekali, mungkin mereka yang termasuk “takut” nanti bisa pindah agama. WKWKWK.

Saya juga tidak pernah mengharapkan ucapan setiap Natal. Tapi tidak dipungkiri bahwa jika ada sebuah ucapan yang datang pada saya, saya sangat senang sekali, seperti menerima ucapan selamat ulang tahun saja. Lucunya lagi, banyak artikel yang membandingkan memberi ucapan selamat Natal dengan mengucapkan 2 ayat syahadat untuk masuk agama Islam. Lha, ini yang buat perbandingan otaknya kemana coba. Membandingkan mbok yang sejajar dan setingkat tong. Yang lebih bodoh lagi ya yang merepost, retweet, share artikel tersebut  dan dengan bangga setuju dengan isinya. WKWKWK.

Saya berani bertaruh tahun depan PASTI muncul lagi deh hal kayak gini. Masih banyak yang TAKUT pindah agama cuma karena memberi ucapan SELAMA NATAL. WKWKWK

SELAMAT NATAL. TUHAN MEMBERKATI

Selamat Hari Ibu

Sepertinya saya juga baru tau kalau sebelum hari Natal juga ada hari Ibu. Pantes aja dari kemaren liat acara di televisi banyak yang ngomongin soal ibunya masing-masing. Tiap orang memiliki cerita, pandangan yang berbeda kepada ibunya. Ada yang sangat bangga, sedih, terharu. dan ada yang menganggapnya sebagai sahabat hidupnya. Rata-rata memiliki kesan yang baik. Tetapi gak jarang juga kita temuin berita-berita yang berisi tindak kejahatan seperti membunuh ibunya, menyiksa ibunya, menggugat ibunya karena hal ini itu. Gak usah jauh-jauh hal tersebut juga pernah saya alami, sewaktu ibu saya masih ada pun sering saya mengecewakan beliau, membantah bahkan membentaknya. Tapi ya semua juga tau kalau penyesalan selalu datang belakangan.

i_love_you_mom

7 tahun sejak ibu tiada, terasa sampai sekarang ada yang hilang sebagian dari hidup saya. Saat ngerayain hari besar atau jika ada acara-acara tertentu. Ibu buat saya adalah segalanya yang tidak mungkin tergantikan oleh siapapun. Untuk yang masih memiliki Ibu, sayangilah dia sepenuhnya sebelum waktu memisahkan.

Selamat Hari Ibu, Mama.

Natalan Tanpa Pohon Natal

Bisa jadi ini pertama kalinya dalam hidup saya, di rumah menyambut hari Natal tanpa pohon Natal. Sebenernya sih ada pohon Natalnya tapi karena sekarang rumah orang tua saya, sudah saya obrak abrik ga karuan buat usaha laundry jadi ga ada tempat lagi buat masang pohon Natal setinggi 2 meteran. Yah..ada rasa ga enak juga sih ke bapak saya karena biasanya tiap tahun rutin masang yang namanya pohon Natal itu, kali ini saya ga masang sama sekali.

Seperti ada yang kurang menyambut Natal tanpa pohon natal walau katanya Natalan bukan yang penting ada ornamen di dalam rumah tapi yang terpenting adalah ornamen di dalam hati kita. Bisa ga sih saya mempercantik hati saya sendiri. Selama ini saya selalu memasang pohon Natal sendiri, terkadang dibantu sama kakak(ini jarang bangettt) dibantu sama pacar (sorry galau mendadak), tapi Natal kali ini saya seperti berasa kehilangan semangat Natal yang seharusnya ga terjadi.

Kali ini pula pertama kalinya saya ga ngaku dosa. Dalam agama Katolik ada ritual namanya pengakuan dosa yang dilakukan para umat melalui perantara romo atau pastur di setiap gereja dalam menyambut Hari Paskah atau Natal, bisa juga hari biasa sih. Ada yang mengganjal dalam hati saya soal ini. Rasa aneh yang tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Natal kali ini apakah benar menjadi Natal terhampa dalam hidup saya. Ah…smoga hanya perasaan saja.

Ketika Natal kali ini tanpa pohon natal dan lampu-lampu beserta ornamennya  yang selalu menghiasi rumah, semoga saya bisa menghiasi hati saya yang mungkin saat ini terasa amat hampa dan sepi. Saya ingin berbuat baik terhadap sesama tanpa mengharapkan pamrih dari mereka dan saya ingin memulai kembali hubungan saya dengan Tuhan Yesus yang sudah beberapa waktu lalu saya meninggalkan Dia. Saya harap Dia masih ada menunggu saya untuk kembali pada-Nya. Selamat terlahir kembali juru selamatku Yesus Kristus, jadikanlah aku penghias bagi pohon natal di hati sesamaku.